- "(...) NADI Gallery ingin merangkul semua karya seni yang muncul. Termasuk menampilkan karya seni kontemporer dari seniman muda berbakat...Tidak hanya mementingkan segi bisnis, melainkan memadukan antara karya yang berbobot dan yang laku di pasaran. "Kita ingin berdiri di tengah-tengah," ujar Biantoro".
("Nadi Gallery Rangkul Semua Karya Seni", WARTA KOTA, 15 September 2000)


- "(...) NADI Gallery dapat berguna baik untuk para kolektor, perupa dan masyarakat di mana semua dapat belajar dari karya seni untuk menerima hal-hal baru dan terus-menerus mengalami perubahan, memahami perbedaan-perbedaan, menghargai orisinalitas, mendekatkan kemajemukan serta kejutan keindahan seni kepada masyarakat luas di mana kita semua berada di dalamnya".
("NADI : Dari Denyut ke Galeri", Tabloid TOKOH, 6-12 November 2000)


- "(...) Dari lukisan-lukisan Heri Dono kita boleh belajar bahwa tertawa itu batas antara yang benar dan yang salah. Manusia tak dapat mutlak benar, tak dapat pula mutlak salah. Manusia tak dapat mutlak benar, tak dapat pula mutlak salah. Manusia harus berada di batas antara yang benar dan salah.
Karena itu manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang seharusnya tertawa dan menertawakan apa saja".
(Sindhunata, "Hidup untuk Tertawa", Majalah BASIS, September- Oktober 2000)


- "(...) Bukan keseriusan atau heroisme ide itu yang membuat kita terpukau, melainkan deretan ironi, olok-olok dan perayaan parodi yang tanpa batas. Meski
dalam hal gagasan memiliki kecenderungan untuk selalu mengomentari masalah-masalah sosial politik yang aktual, Heri Dono selalu cukup cerdik untuk menghindar dari sekadar membuat karya yang karikatural".
(Mas'ad T., "Keindahan dari Dunia Kartun", PANJI MASYARAKAT, 3 Oktober 2000).

-"(...) Heri Dono menggambarkan keadaan negeri yang carut-marut dari sisi humor. Ia memotret kehidupan sebagai kartun. Ia melihat kebenaran sebagai sesuatu yang relatif dan tidak ada kepastian. Hasilnya terlihat sebagai karya yang mungkin absurd, muskil, nyaris surealis, tapi itulah realitas yang ditangkapnya".
(Tan, "Menyikapi Realitas Pahit dengan Humor", WARTA KOTA, 17 September 2000).

-"(...) Apa saja yang bersifat publik kacau. WC umum, bus umum, telepon umum, banyak yang rusak enggak karuan. Menarik bahwa masyarakat menganggap wajar... Kita ini republik, tapi tidak mengutamakan yang publik. Di situ humornya".
(Bre Redana, Efix Mulyadi, "Lebih Jauh dengan Heri Dono", KOMPAS MINGGU, 8 Oktober 2000).

-"(...) Sepintas, apa yang ditampilkan Murni mungkin biasa-biasa saja. Tapi bila dicermati, apa yang dituangkan Murni lewat karyanya ini punya makna yang penuh arti dan sangat mendalam tentang wanita. Barangkali ini satu kesegaran dalam dunia seni Indonesia".
(HAS, "Wanita-wanita Murni di Atas Kanvas", BISNIS IND0NESIA, 8 Oktober 2000).

-"(...) Karyanya memancarkan kegelisahan, keceriaan, kesepian dan kenikmatan
dalam alam fantasinya. Kerinduan dalam mengekspresikan lukisan dengan tema semacam itu dianggap tabu. Namun bagi Murni hal itu wajar dalam suatu kreatifitas yang bebas".
(Ri Gautama, "Segudang Ide dari Tubuh", Tabloid TOKOH, 23-29 Oktober 2000).

-" (...) Berbeda dengan para pendahulunya, Murni melanjutkan semangat modernis Bonnet hingga ketitik ekstrem. Murni berjalan lebih jauh: menjadikan tubuhnya sendiri bukan sebagai obyek keindahan, melainkan juga obyek untuk menarasikan kehidupannya sebagai individu".
(Eddy Soetriyono, "Fantasi Tubuh Murni", GATRA, 28 Oktober 2000).

-"(...) The success in her painting stems from her inner world, one of tumultuous dreams and restlessness. It is this element that Murni, a woman painter with Balinese blood and intense contact with the Balinese atmosphere, differ from other Balinese painter...Essentially, the piercing quality of her works is the reflection of contemplation on her dreams".
(Aendra H. Medita, "Murni Explores Eroticism of Modern Balinese Art", The Jakarta Post, 22 oktober 2000).

-"(...) Meski tak masuk dalam tema yang mengusung wacana publik (tema kemanusiaan, politik, sosial) seperti banyak disuarakan perupa laki-laki, lewat karya-karyanyang orisinal (dan terkesan asyik dengan dirinya sendiri), Murni justru dapat memberikan suasana pencerahan pada kita, mengenai kejujuran seni yang berasal
dari seniman yang menggali temanya dari kehidupan pribadi, lepas dari wacana komunal".
(Mas'ad T., "Kemurnian Murni", PANJI MASYARAKAT, 25 Oktober 2000).

-"(....) Erotisisme, bahkan sadomasokisme, bukan hal baru dalam khasanah lukisan Bali.Kita teringat pada, misalnya I Gusti Nyoman Lempad, Ida Bagus Ketut Sunia, I Made Budi, juga Mokoh yang menampilkan perkelaminan, bahkan orgi. Namun, sementara para pelukis lelaki itu mengerjakannya sembunyi-sembunyi, Murni sebaliknya. Si bungsu dari 10 bersaudara keluarga petani yang hanya sempat mengecap SD ini jelas mencorong pokok berahinya, menohok rasa kesopanan kaum priyayi dan borjuis".
(Nirwan Dewanto, "Berahi yang Berterus Terang", TEMPO, 5 November 2000)

-"(...) Murni memperlihatkan bahwa seni rupa Bali tradisional bisa berkembang bila berani membuka lahan tematis yang baru. Dia perlihatkan bahwa obsesi kepribadian -bernuansa seksual-berpotensi menjadi unik. Padahal, seni rupa Bali, tradisional maupun moderen, jarang bersifat "pribadi", manusia riil tidak hadir di dalamnya. Yang ada adalah "narasi" mitis/simbolis atau eksotis -untuk seni tradisional - dan tanda-tanda identitas etnik - untuk seni moderen. Dengan Murni, identitas itu lenyap, digantikan pengungkapan "batin" yang tergali sampai ke lapis paling pribadi"
(Jean Couteau, "Surealisme Naif Murni", GAMMA, 1 - 7 November 2000)

-"(...) Ini bukan lakon seorang perempuan pelukis yang melankolis atau seseorang yang mengidap masalah kejiwaan. Ini pengalaman seorang perempuan lugu, yang dalam norma-norma umum pun kejujurannya itu kerap terasa keterlaluan. Organ-organ seksual dan aktivitas seputar itu, bahkan persenggamaan, bertebaran di banyak kanvas. "Hidupku terasa tidak komplet tanpa masturbasi", tulis perempuan yang akrab disapa Murni itu".
(Maman Gantra, "Rasa Sakit di Tubuh Murni", FORUM KEADILAN, 12 November 2000).

-"(...) Kepahitan, rasa sakit, impian, kesepian bercampur jadi satu adonan dalam lukisan Murni. Tetapi tidak semuanya bernuansa muram, tubuh perempuan
juga digambarkan dengan penuh kesegaran. Murni menampilkannya dengan telanjang, lebih kejam, dan cenderung masokhis. Itulah realitas, perempuan di dalam wilayah domestiknya".
(Osi, "Ketika Murni Memahat Tubuh Perempuan", BALI POST, 22 Oktober 2000).

-"(...) Kedewasaan Erica terlihat pada keberaniannya melukiskan pemandangan sebuah toko alat-alat pembantu seks di Amsterdam. Kedewasaan Erica tak melunturkan gaya kanak-kanaknya. Walau temanya dewasa, frame yang dipilih tetap kekanakan".
(Sandra Ratnasari, "Erica: "Pelukis Naif yang Beranjak Dewasa", WARTA KOTA, 11 November 2000).

-"(...) Hal lain yang bisa dibilang "beda" dari seorang Erica adalah dalam hal pengungkapan kejujuran. Kalau dulu figur manusia dilukis lengkap dengan pakaian, maka, pada beberapa terbaru, ia lebih jujur dengan menampilkan sisi-sisi kehidupan manusia yang lebih detail".
(Nanang, "Erica, Perupa Menelanjangi Kejujuran", Tabloid TOKOH, 13-19 November 2000).

-"(...) For the most part, Erica has retained her style of her naïve, as the collection shown in her solo exhibition -entitled "My Dream and Diary" shows. Filling her canvases with brightly-colored narratives about whatever she sees, notes or experiences, it is as if she was opening a book to show what her surroundings are like".
(Carla Bianpoen, "The Art of Erica: a Diary of Sorts", INDONESIAN OBSERVER, November 12, 2000).

-"(...) Sejak awal kemunculannya, Erica sudah menegaskan karakter yang berbeda dengan para seniornya. Bila dibandingkan lukisan anak-anak umumnya, lukisan-lukisan heri Dono atau Eddie Hara, maka lukisan Erica terkesan tercipta tanpa beban, atau berisi muatan tertentu. Dalam tiga -empat tahun terakhir, karier kepelukisan Erica memang tengah melaju pesat. Bersama sejumlah pelukis muda lain, seperti Nasirun, Entang Wiharso, dan Faisal, Erica masuk dalam deretan pelukis
yang karyanya selalu ditunggu dan diburu".
(Mas'ad T., "Lukisan Diary Erica", PANJI, 29 November 2000).




copyright 2003 www.nadigallery.com